Pelaku Penembakan Massal di Sinagoge Pittsburgh Merencanakan Serangan

Persidangan yang mengadili seorang pria yang didakwa dalam kasus serangan antisemitisme paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat dimulai pada Selasa (30/5). Persidangan dibuka dengan pernyataan pengacara terdakwa yang mengakui bahwa kliennya telah merencanakan pembantaian itu. Pelaku melakukan penembakan massal tahun 2018 di sebuah sinagoge di Pittsburgh dan mengucapkan ujaran kebencian tentang umat Yahudi.

Robert Bowers mendatangi sinagoge Tree of Life, alias Pohon Kehidupan, dan “menembak setiap orang yang dilihatnya,” kata pengacara terdakwa, Judy Clarke, dalam pernyataan pembuka.

Bowers, 50 tahun, terancam hukuman mati apabila dinyatakan bersalah atas sebagian dari 63 pasal yang dikenakan terhadapnya terkait serangan pada 27 Oktober 2018 lalu. Serangan itu menewaskan 11 orang dari tiga kelompok jemaat yang berbagi gedung itu. Dakwaan yang dikenakan terhadap Bowers termasuk 11 dakwaan masing-masing untuk tindakan menghalangi kebebasan menjalankan agama yang mengakibatkan kematian, serta kejahatan rasial yang mengakibatkan kematian.

Menjelang persidangan, pengacara Bowers tidak berbuat banyak untuk membangun argumen bahwa Bowers bukanlah pelaku penembakan. Mereka justru fokus berusaha menyelamatkan nyawanya. Bowers, sopir truk asal Baldwin, daerah pinggiran Pittsburgh, telah menawarkan diri untuk mengaku bersalah dengan imbalan hukuman seumur hidup. Akan tetapi, jaksa federal menolaknya.

Baca Pula:  Mantan Agen FBI yang Terkait Oligarki Rusia Akui Lakukan Kecurangan

Dalam pernyataan pembukaannya, Clarke mempertanyakan apakah Bowers bertindak atas dasar kebencian kebencian, atau justru keyakinan irasional bahwa dirinya harus membunuh orang Yahudi demi menyelamatkan orang lain dari genosida, yang ia klaim dimungkinkan orang Yahudi dengan cara membantu para imigran masuk ke Amerika.

“Ia meyakini apa yang kita anggap sebagai pemikiran yang absurd, tidak masuk akal, bahwa ia bisa mencapai tujuannya dengan membunuh orang Yahudi,” kata Clarke, yang menambahkan: “Tidak ada alasan untuk membenarkan tindakan tidak masuk akal ini. Tuan Bowers telah menimbulkan luka yang luar biasa besar bagi begitu banyak orang.”

Dalam pernyataan di hadapan dewan juri, para jaksa menggambarkan bagaimana Bowers menerobos masuk ke dalam sinagoge dan menembak setiap jemaat yang ia temukan.

Baca Pula:  Zelenskyy Temui Pebisnis Papan Atas Selama Kunjungan ke AS

“Taraf kedengkian dan kebencian terdakwa hanya dapat dibuktikan melalui tubuh-tubuh korban yang hancur” dan “kata-katanya yang penuh kebencian,” kata Asisten Jaksa AS Soo C. Song.

Beberapa penyintas meneteskan air mata selama Song menyampaikan pernyataannya. Di sisi lain, Bowers duduk di meja pesakitan, tanpa menunjukkan reaksi apa pun.

Dua belas juri dan enam juri pengganti, yang sudah dipilih pada Kamis (25/5) setelah menyeleksi lebih dari 200 kandidat selama lebih dari sebulan, hadir dalam kasus tersebut. Mereka terdiri dari 11 perempuan dan tujuh laki-laki. [rd/rs]

Sumber: VOA

Fakta menarik dan bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *