Sekolah tatap muka di Bolmut : dari siswa satu-satunya di kelas, hingga meja belajar dibuat ‘Tameng’

  • Share
Kesia satu-satunya siswa kelas dua di SDN 1 Batu Tajam. (Foto Rahmat Tegila Prokopim pemkab Bolmut)

TORANGPEBERITA.COM- Lonceng berbunyi tanda siswa harus masuk kelas di SDN 1 Batu Tajam, Kecamatan Pinogaluman, Selasa 7 September 2021. Saat itu menjadi hari ke dua pembukaan sekolah tatap muka di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Provinsi Sulawesi Utara.

Tampak siswa memakai masker dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Saat itu SDN 1 Batu Tajam menjadi salah satu sekolah yang dikunjungi oleh Bupati Bolmut Depri Pontoh.

Bupati tampak mengelilingi kelas-kelas yang ada di SDN 1 Batu Tajam. Ia sempat bertanya berapa jumlah siswa dan guru di sekolah ini. Yang diketahui jumlah siswa hanya 26 dan enam guru bersama kepala sekolah.

Setelah mengelilingi kelas dan melihat tidak lebih dari 10 siswa di dalam kelas. Seketika Bupati Bolmut tampak terkejut melihat siswa kelas dua hanya satu orang. Yang saat itu diketahui jika siswa kelas dua hanya satu orang.

Bupati pun langsung mengajak siswa tersebut berfoto seakan momen ini jarang terjadi dimana dalam kelas hanya satu orang siswa.

Torangpeberita.com mencoba menghampiri siswa yang bernama Kesia itu. Kata gurunya ia belajar seperti biasa. Bahkan sambil bercanda gurunya menyampaikan ia bisa meraih rangking pertama.

Saat itu juga Torangpeberita.com ingin mewancarai Kesia. Tapi ia saat itu masih malu-malu.

Di sekolah SDN 1 Batu Tajam, Bupati berpesan kepada para guru agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Termasuk dalam pembelajaran di kelas.

“Pihak sekolah harus mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan prosedur protokol kesehatan di sekolah,” tegas Bupati.

Sebagai langkah awal sekolah tatap muka secara langsung agar pihak sekolah mengatur shift di masing-masing kelas sehinga tidak terjadi kerumunan peserta didik.

“Saya juga meminta agar Sekolah terus membenahi fasilitas kesehatan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di sekolah,” ungkapnya 7 September 2022.

Dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas harus mengikuti persyaratan-persyaratan dan ketentuan yang berlaku.

Serta dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus mematuhi protokol kesehatan Covid-19 yang sangat ketat dan disiplin selama jam pembelajaran dilaksanakan sampai dengan jam pembelajaran selesai.

“Saya berharap kepada para guru untuk dapat mengawasi para murid pada waktu jam belajar disekolah dengan sangat ketat dan disiplin mematuhi protokol kesehatan,” ujarnya.

Meja belajar dibuat ‘Tameng’

HARI masih pagi anak-anak tiba di SDN 1 Boroko, Kecamatan Kaidipang, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara mereka masuk sekolah memakai masker, sebagian dari mereka diantar orang tua.

Sementara guru SDN 1 Boroko memberikan arahan kepada siswanya di halaman sekolah. Sembari media ini mencari Kepala sekolah (Kepsek) sementara di ruang kelas terdengar seperti ada yang sedang memaku sesuatu. Ternyata kepsek SDN 1 Boroko Taha Lasimpala,

Dirinya terlihat sedang membuat meja belajar siswa dengan alat pelindung diri terbuat dari plastik dan bahan kayu. Dibuat ada yang berbentuk kotak dan bulatan. Setiap satu meja dibuat pelindung  yang terbuat dari plastik.

Inovasi meja dibuat tameng di SDN 1 Boroko. (Foto Fandri Mamonto)

Setelah bertemu. Lalu media ini diajak kepala sekolah melihat arahan guru SDN 1 Boroko di halaman sekolah sebelum aktivitas belajar mengajar di kelas. Suhu tubuh siswa diperiksa. Lalu mencuci tangan. Tertib. Teratur.

Dalam kelas proses belajar mengajar terlihat siswa dan siswi   fokus mendengar arahan guru. Bahkan pelajaran yang diberikan selama setiap dua jam diselipkan pengetahuan tentang pencegahan Covid-19.

Selain itu ruang kelas ditata sedemekian rupa dengan beragam tulisan himbauan tentang protokol kesehatan.

Taha Lasimpala berbagi cerita kepada media ini bagaimana inovasi ini dibuat. Menurutnya selama pandemi Covid-19 dirinya jarang tertidur bagaimana memikirkan strategi aktivitas belajar mengajar kepada siswa. “Apalagi ada guru kami yang tidak punya kendaraan,” ujarnya.

Selanjutnya tidak semua orang tua wali murid punya ponsel android. “Selain itu terkadang selalu mengalami gangguan jaringan,” ungkapnya.

Lasimpala menuturkan walaupun demikian baik luring dan daring sudah selalu dilakukan. “Sehingga pada pertengahan Oktober saya berpikir atau membuat percobaan khusus siswa kelas satu untuk bisa masuk kelas dalam pengenalan lingkungan sekolah,” jelasnya.

“Pada waktu itu saat siswa kelas satu datang ke sekolah ada yang masuk ke perpustakaan yang mereka anggap itu kelas satu,” kata Lasimpala.

“Dari sini saya berpikir membuat Alat Pelindung Diri Darurat (APDD) itu istilah yang saya berikan terhadap inovasi ini,” ia menambahkan.

Inovasi ini awalnya berupa bambu dibuat seperti lingkaran lalu dipasang plastik untuk menutup meja. “Tapi karena saya pikir bambu cepat rusak, saya mencari sisa kayu di tempat mengelola kayu dan kumpulkan. Jadi sekarang sudah kayu dan ada juga yang dari besi,” jelasnya.

“Orang tua murid mendukung inovasi ini bahkan dari mereka ada yang memberikan uang tapi saya tidak menerima. Lebih baik saya sampaikan sediakan bahannya saja untuk inovasi ini akhirnya dari mereka ada yang membuat,” tuturnya.

Dan dari orang tua murid mendukung kegiatan ini, sehingga dari orang tua siswa membawa bahan untuk membuat pelindung meja ini. “Mereka orang tua siswa ada yang membawa langsung, akan tetapi saya tidak paksakan mereka,” ujarnya.

Baca Pula:  Kereta Api di Sulawesi Mulai Beroperasi,  Simak Rencana Jalur Kereta Api Yang Melalui Bolmut

Saat ini menurut Lasimpala sekolahnya memiliki 170 siswa tapi baru 163 yang masuk dalam dana Bos (Bantuan operasional sekolah) sisanya karena belum memiliki NIS (Nomor Induk Siswa). “Dari jumlah siswa tersebut. Siswa masuk kelas diatur dibagi stengah dari jumlah siswa atau dilakukan ,”ujarnya.

“Mereka masuk kelas dibagi dua jam setiap shift. Pelajaran yang diberikan juga tentang situasi saat ini pandemi Covid-19,” tambahnya.

Aktivitas Belajar tata muka hanya dua jam di SDN 1 Boroko. (Foto Fandri Mamonto)

Saat ditanya bagaimana memberikan pelajaran saat waktu hanya dua jam. Kepsek yang menjadi guru sejak 1988 ini menuturkan caranya dibuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sederhana. “Walaupun demikian tidak waktu istirahat bagi siswa jadi dua jam itu fokus mereka di kelas,” ujarnya.

Setiap pelajaran yang diberikan pihaknya menyisipkan pengetahuan dan imbauan tentang protokol kesehatan. “Misalnya mata pelajaran matematika kami akan berikan pertanyaan kepada siswa berupa berapa kali 

suasana kelas tidak ribut.  Inovasi ini juga membuat siswa lebih disiplin dan fokus. Tidak mengganggu temannya di sebelah. “Keluar kelas tidak rebutan. Duduk teratur. Menurutnya mencuci tangan,” ujarnya.

Selanjutnya media ini mencoba masuk dalam kelas, terlihat situasi pembelajaran dalam kelas anak-anak saat fokus belajar. Mereka fokus dengan tugas belajar yang diberikan. 

Selain itu walaupun demikian kantin sekolah belum dibuka. Selain itu dirinya melarang siswa membawa uang. “Dan saya juga melarang mereka membawa mainan,” ujarnya.

Ia menceritakan sejauh ini sudah ada beberapa teman guru yang datang ke sekolah untuk melihat inovasi ini. “Bahkan informasinya sudah mulai membuat di salah satu sekolah yang ada di Bolmut,” tutur Lasimpala.

Dukungan Guru dan Siswa : Lebih Nyaman Belajar Pakai “Tameng”

Taha Lasimpala tidak sendirian. Sebagai satu-satunya guru lelaki di SDN 1 Boroko, ia mendapat dukungan dari para guru dan siswa terkait inovasi membuat pelindung untuk meja belajar siswa. Bahkan guru dan siswa kompak menjawab lebih nyaman belajar pakai pelindung seperti ini.

Samsidar Datukramat guru kelas enam SDN 1 Boroko ini menuturkan dengan pembelajaran seperti ini terlihat siswa terbit sekali. “Mereka lebih fokus untuk belajar tidak saling menggangu,” ungkapnya.

“Kami guru lebih senang dengan pembelajaran tatap muka seperti ini, karena selain ada papan tulis media pembelajaran juga tersedia,” tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Yanti Bone guru kelas satu SDN 1 Boroko bahkan dirinya menceritakan sedikit bagaimana inovasi ini tercipta. Menurutnya pada saat itu dirinya menonton Youtube dan melihat meja belajar di Thailand dibuat pelindung. “Dan berpikir bagaimana kalau dibuat di sekolah kami,” jelasnya.

Dengan pertemuan di sekolah, banyak orang tua siswa mendukung. Hal ini juga upaya agar siswa fokus belajar. “Apalagi siswa kelas satu yang belum mengenal lingkungan sekolah,” ujarnya.

Sementara itu Riqqa Lasena (11 tahun) siswa kelas enam SDN 1 Boroko ini menuturkan dirinya merasa senang dengan aktivitas belajar di sekolah terlebih setelah meja dibuat pelindung. “Jadi lebih nyaman, lebih fokus belajar tidak ada teman menggangu,” jelasnya.

Ditanya apakah lebih suka meja dibuat pelindung, ia menjelaskan lebih suka seperti ini (meja pakai pelindung). “Saya juga berharap kalau bisa seperti ini terus mejanya,” kata Lasena.

Putri Datukramat siswa kelas lima SDN 1 Boroko menambahkan dirinya suka belajar pakai meja pelindung. “Melatih disiplin kita di sekolah dan belajar jadi lebih fokus,” ujarnya.

“Belajar tatap muka lebih disukai, kalau belajar di rumah lebih sepi tidak ada teman,” ia menambahkan.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bolmut Sulha Mokodompis mengapresiasi inovasi dari para kepala sekolah. “Kami sangat mengapresiasi kegigihan para kepsek untuk menciptakan inovasi tersebut, guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Keinginan kami para siswa selalu aktif belajar sekalipun segala fasilitas terbatas,” ungkapnya.

“Kami juga berharap kepsek yang lainnya membuat inovasi terkait kegiatan belajar mengajar,” harap Sulha.

Inovasi Yang Sama di SDN 1 Kayougu

Selain SDN 1 Boroko, Kecamatan Kaidipang. SDN 1 Kayuogu, Kecamatan Pinogaluman membuat inovasi meja dibuat alat pelindung.

Kepala sekolah SDN 1 Kayuogu saat itu Muhrin Neu mengatakan inovasi Alat Pelindung Diri Darurat (APDD) ini dibuat. “Karena kami melihat keadaan siswa yang belajar selalu berpindah-pindah tempat dan posisi mereka belajar selalu telungkup,” ujarnya

“Jadi saya berfikir bagaimana kalau dibuat saja APDD seperti yang dibuat oleh SDN 1 Boroko. Sehingga saya langsung undang orang tua siswa dan musyawarah tentang hal ini,” ujarnya.

Menurutnya, sebelumnya ditawarkan alat dibuat dari kayu atau pelepah seho yang mudah didapat karena mengingat keadaan orang tua. “Tapi sebelum diundang orang tua siswa saya sudah buatkan satu pasang yang terbuat dari pipa atau paralon sebagai contoh,” ia menambahkan.

Guru SDN 1 Kayougu saat mengajar. (Foto SDN 1 Kayougu)

“Tapi salah satu tokoh masyarakat yang sempat hadir Hasa Iyabu mengatakan kejapa orang tua siswa sebaik semua dibuat dari pipa agar pertama bagus dilihat. Kedua apabila Corona akan berakhir pipa ini bisa dimanfaatkan misalnya dibuat rak bunga atau rak sepatu kalau dari kayu atau sejenisnya bisa jadi sampah,” dia menambahkan.

Baca Pula:  20 Tahun Terakhir Bolmut Kehilangan 18,4 Ribu Hektar Tutupan Pohon

Muhrin menjelaskan untuk pembuatan APDD orang tua menanggung pipa dan bok sementara sekolah yang buat dan plastik dengan lem ditanggung oleh sekolah. “Alhamdulillah kelas satu sampai enam sudah ada semua,” ujar kepsek.

Ia mengatakan, untuk pembelajaran dibagi jam itu hanya jumlah siswa lebih dari 10. “Protokol kesehatan juga diterapkan. Di depan pintu gerbang ada baliho terima kasih anda sudah menerapkan 3M, mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak,” ungkapnya.

Jadi siapa saja yang masuk kalau tidak memakai masker tidak diperbolehkan masuk. “Kemudian setiap depan kelas ada tempat cuci tangan air mengalir, sebelum belajar disemprot disinfektan, siswa diwajibkan membawa serbet sendiri, botol minum, dan makanan sendiri, orang tua sudah membuat pernyataan ditandatangani di atas materai,” tuturnya.

“Belajar juga kami selalu ingatkan tentang Covid-19 setiap hari. Bahkan didepan kelas ada spanduk kecil peringatan Covid-19,” dia menambahkan.

Unicef Mendorong Semua Sekolah Dibuka Kembali

UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong agar semua sekolah di seluruh Indonesia dibuka kembali dengan aman dan agar pembelajaran tatap muka (PTM) dilanjutkan bagi semua anak sesegera mungkin.

Menurut data pemerintah, lebih dari 60 juta murid di Indonesia terdampak penutupan sekolah yang dilakukan pada bulan Maret 2020. Saat ini, baru 39 persen sekolah yang telah kembali dibuka dan menyelenggarakan PTM secara terbatas sejak 6 September 2021, sejalan dengan panduan nasional dari pemerintah.

Mengingat tingkat penularan varian Delta yang tinggi, protokol kesehatan sangat penting ditegakkan untuk menurunkan penularan komunitas di semua lingkungan, termasuk lingkungan sekolah. Di wilayah dengan angka kasus COVID-19 yang tinggi sekalipun, WHO tetap menyarankan agar sekolah kembali dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan. Dengan aturan kesehatan yang ketat, sekolah dapat menawarkan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak dibandingkan dengan keadaan di luar sekolah.

“Saat hendak membuka kembali sekolah, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah cara menerapkan protokol kesehatan yang esensial, seperti menjaga jarak minimal satu meter dan memastikan murid dapat mencuci tangan dengan sabun dan air secara teratur. Namun, kita pun harus ingat bahwa sekolah tidak berada di ruang vakum. Sekolah adalah bagian dari masyarakat,” ujar Dr. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia.

“Dengan demikian, saat kita memutuskan untuk kembali membuka sekolah, kita harus pastikan penularan di masyarakat tempat sekolah berada juga dapat dikendalikan,” ia menambahkan.

Penutupan sekolah tidak hanya berdampak terhadap pembelajaran, tetapi juga terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak yang sedang berada di dalam tahap penting perkembangannya, serta dengan konsekuensi jangka panjang. Dalam survei yang dilakukan baru-baru ini oleh Kementerian Kesehatan RI dan UNICEF, ditemukan bahwa 58 persen dari 4.374 puskesmas di 34 provinsi melaporkan kesulitan menyediakan layanan vaksinasi di sekolah.

Anak di luar sekolah juga lebih berisiko menjadi korban eksploitasi ataupun kekerasan fisik, emosional, dan seksual. Indonesia telah mencatat kenaikan yang memprihatinkan dari angka perkawinan usia anak dan kekerasan sejak pandemi bermula. Di pengadilan-pengadilan agama, permohonan dispensasi nikah naik tiga kali lipat dari 23.126 pada tahun 2019 menjadi 64.211 pada tahun 2020.

Pemerintah pusat dan daerah telah melakukan berbagai cara untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Meskipun sebagian di antaranya terbukti efektif, tak sedikit anak yang masih menghadapi hambatan signifikan dalam belajar. Dalam sebuah survei yang dilakukan pada kuartal terakhir tahun 2020 di 34 provinsi dan 247 kabupaten/kota, lebih dari separuh (57,3 persen) rumah tangga dengan anak usia sekolah menyebutkan koneksi internet yang andal sebagai kendala utama. Sekitar seperempat orang tua yang disurvei juga menyatakan mereka tidak memiliki waktu ataupun kemampuan untuk mendampingi anak melakukan pembelajaran jarak jauh. Sementara itu, tiga dari empat orang tua menyatakan khawatir bahwa anak akan mengalami kehilangan kompetensi.

“Bagi anak-anak, makna sekolah lebih dari sekadar ruang kelas. Sekolah adalah lingkungan tempat belajar, berteman, mendapatkan rasa aman, dan kesehatan,” kata Perwakilan UNICEF Debora Comini.

“Semakin lama anak berada di luar sekolah, semakin lama pula mereka terputus dari bentuk-bentuk dukungan penting ini. Jadi, seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas karena COVID-19, kita pun harus memprioritaskan pembukaan kembali sekolah dengan aman agar jutaan murid tidak perlu menanggung kerugian pembelajaran dan potensi diri seumur hidupnya.”

Sejalan dengan persiapan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan kembali PTM di Indonesia, dibutuhkan pula langkah-langkah pengamanan yang komprehensif untuk meminimalkan dampak penutupan sekolah yang berkepanjangan terhadap kehidupan seorang anak. UNICEF dan para mitranya menyarankan tiga langkah prioritas berikut:

Mengadakan program dengan sasaran khusus untuk mengembalikan anak dan remaja ke sekolah dengan aman, tempat mereka dapat mengakses pelbagai layanan yang memenuhi kebutuhan belajar, kesehatan, kesejahteraan psikososial, dan kebutuhan lain dari anak.

Merancang program remedial atau program belajar tambahan untuk membantu murid mengejar pembelajaran yang hilang sambil membantu mereka memahami materi-materi baru.

Mendukung guru agar dapat mengatasi kehilangan pembelajaran, termasuk melalui teknologi digital.

Fakta menarik dan bermanfaat
  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *