//

Disrupsi besar kita hadapi saat ini : perubahan iklim, revolusi industri 4.0 dan pandemi Covid-19

Instagram Lipi Indonesia.

TORANGPEBERITA.COM- Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria menyampaikan tentang tiga disrupsi besar yang sedang dialami dunia, yaitu perubahan iklim, revolusi industri 4.0 dan pandemi Covid-19. Hal ini disampaikannya pada  kuliah ilmiah yang berjudul ’Biodiversitas dan Inovasi Bioekonomi untuk Masa Depan Bangsa’.

Kuliah ilmiah tersebut disampaikan Arif pada Sarwono Memorial Lecture XXI yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebagai puncak peringatan Hari Ulang Tahun LIPI ke-54.

Dalam paparannya, Arif menyampaikan  perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan dan pertanian, seperti anomali curah hujan, meningkatnya bencana alam, hingga tingginya resiko gagal panen.

“Hal ini tentu saja menimbulkan efek domino pada segi ekonomi, sosial, dan krisis energi. Pada bidang kesehatan pun, disrupsi perubahan iklim ini menyumbangkan penambahan angka malnutrisi, stunting, dan jumlah penyakit,” jelasnya.

Selanjutnya disrupsi revolusi industri 4.0 diakselerasi dengan kecepatan teknologi kepintaran buatan, robotik, big data, hingga Internet of Things.

Yang menurutnya ternyata telah merombak tatanan kehidupan. Dirinya mengungkapkan revolusi biologi juga sedang dirasakan atas dampak dari disrupsi teknologi ini, di mana aspek biologi saat ini bersinergi dengan aspek teknologi komputer.

“Dalam dunia bisnis, disrupsi ini menyebabkan munculnya pekerjaan baru, dan hilangnya sejumlah pekerjaan. Hari ini kita merasakan pentingnya kompetensi-kompetensi baru yang mengedepankan future skill (keahlian masa depan) yang didapat melalui reskilling, upskilling, dan new skilling,” ujar Arif.

Disrupsi ketiga berupa pandemi Covid-19 juga mengubah banyak pola di kehidupan sehari-hari. Beberapa yang paling dapat dirasakan saat ini menurutnya adalah perlambatan ekonomi, peningkatan angka kemiskinan, dan penurunan kesehatan.

Namun di sisi lain juga meningkatkan fleksibilitas kegiatan bekerja dan belajar-mengajar.

Berdasarkan data yang dianalisisnya, ketiga disrupsi besar ternyata tidak memengaruhi pertumbuhan biodiversitas, yang menurut data Produk Domestik Bruto (PDB/Lapangan Kerja) 2020-2021, sektor yang berbasis pada biodiversitas tetap tumbuh positif.

Baca Pula:  929 warga terdampak banjir di Kabupaten Gorontalo

“Ini artinya, sektor biodiversitas adalah sektor yang tahan banting. Ini lah mengapa sektor ini harus terus dikembangkan dan mendapatkan prioritas dalam pembangunan nasional,” kata arif.

Tiga Disrupsi dan Perubahan Model Ekonomi

Arif menegaskan, ketiga disrupsi besar tersebut mengubah model ekonomi masa depan. Ia berpendapat, perubahan iklim memaksa terjadinya green and blue economy, revolusi industri 4.0 memaksa terjadinya sharing economy, dan pandemi Covid-19 memaksa terjadinya new normal bioeconomy. Perubahan tersebut harus dihadapi semua kalangan dan semua bidang.

Green Economy Initiative (GEI) mendeskripsikan green and blue economy sebagai ekonomi yang meningkatkakan kualitas kehidupan manusia dan ekuitas sosial, dengan secara signifikan mengurangi dampak lingkungan dan kelangkaan ekologi. “Green and Blue Economy merupakan jawaban atas perubahan iklim. Di mana di dalamnya mementingkan pertumbuhan karbon rendah, efisiensi sumber daya, dan melibatkan masyarakat,” jelas Arif.

”Keberlanjutan saja tidak cukup. Langkah menjaga sumber daya alam tidak berhenti pada menjaga keberlanjutannya, namun juga regenerasi. Dalam istilah mudahnya, ada perbedaan antara membiarkan pohon tidak disentuh, dan menanam lebih banyak pohon,” ujarnya.

Lebih jauh ilmuwan berkacamata tersebut mengatakan, bentuk perubahan model ekonomi dari dampak revolusi industri 4.0 berupa sharing economy. Model ekonomi ini menurut Arif, memiliki ciri menciptakan nilai, dapat diakses online, berbasis komunitas, bisa dikonsumsi dan dimanfaatkan bersama, serta berbagi aset yang kurang termanfaatkan.

”Model ekonomi ini mengurangi kebutuhan kepemilikan, dan meningkatkan konsumsi kolaboratif,” ungkapnya yakin.

Ia menambahkan, untuk perubahan model ekonomi New Normal Bioeconomy memiliki tiga ciri khas, yaitu sirkular, berbagi, dan regeneratif. Ciri regeneratif ini muncul dari masa new normal, yang memaksa upaya-upaya menumbuhkan keanekaragaman hayati, karena meningkatnya kepedulian masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan-makanan sehat dan berbasis biodiversitas.

Sebagai model bioekonomi baru, dirinya menguraikan, biodiversitas memiliki fungsi penyediaan, pengaturan, kebudayaan, dan pendukung. Ia menjelaskan juga bahwa biodiversitas menyediakan pangan, obat, dan biomaterial, serta fungsi mengatur iklim, penyakit, dan regulasi.

Baca Pula:  WCD di Bolmut : 215 Kg sampah berhasil dikumpulkan

Terlebih lagi, menurutnya, Indonesia merupakan negara mega biodiversitas, dengan sekitar 90 persen flora dunia dapat ditemui di Indonesia, dan 940 jenis berkhasiat sebagai obat.

”Nilai total keanekaragaman hayati di Indonesia mencapai lebih dari tiga ribu triliun rupiah. Oleh karena itu, model ekonomi new normal bioekonomi seharusnya menjadi hal yang sangat mungkin dan sangat menguntungkan di Indonesia, sehingga perlu untuk diprioritaskan,” jelasnya.

Arif pun yakin bahwa ekonomi berbasis biodiversitas ini dapat menjadi pondasi sumber ekonomi bangsa masa depan.

“Dasar dari ekonomi masa depan ini tentang bagaimana kita mampu membangun ekosistem yang tangguh yang melibatkan modal SDM, modal produsen, dan SDA,” ujar Arif

Karakteristik inovasi bioekonomi ini berorientasi pada masa depan, memperkuat kedaulatan ekonomi, memberikan solusi, dan dapat dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah. Sektor dari inovasi ini pun beragam mulai dari pangan dan obat, biomaterial, hingga smart farming. 

Dirinya pun menekankan bahwa inovasi-inovasi dari model ekonomi new normal bioeconomy ini tak lepas dari pentingnya hilirisasi inovasi serta tata kelola yang benar.

Sumber : LIPI

Fakta menarik dan bermanfaat