Jatuh Bangun Kuliner Pantai Batu Pinagut 

Rumah makan yang berada di pantai wisata Batu Pinagut. (Foto Fandri Mamonto)

TORANGPEBERITA.COM- Mentari mulai bergerak naik di sisi Timur Pantai wisata Batu Pinagut. Deru ombak kencang terdengar. Desir angin menjatuhkan dedaunan pada pohon sekitar pantai. 

Sejak pagi, beragam aktivitas terlihat di pantai wisata Batu Pinagut. Perahu nelayan lalu-lalang di wilayah pantai. Ada sedang baru akan melaut, ada pula yang akan merapat menuju tambatan. 

Kesibukan juga tampak di rumah-rumah makan. Para pemilik sibuk bersiap menunggu tamu berdatangan. Ahmad Pontoh (43) salah satunya. Salah seorang pengusaha rumah makan di Batu Pinagut ini hilir mudik memastikan semua urusan beres bersama istri dan tiga karyawannya. Ia juragan sebuah rumah makan sederhana berdinding bambu, beratap katu berlantai beton dan tanah untuk tempat memasaknya. Menu andalannya yang menjadi jawara pada lidah pelanggan diantaranya Stik pisang goreng Goroho yang digoreng, Mie Ceplok dan ditemani minuman dingin sebagai pelengkap. 

Hari masih pagi, namun wisatawan lokal mulai memadati Pantai Batu Pinagut.

Ahmad sesekali memegang ponselnya sambil menyeruput kopi. Pria ini tampak santai dengan setelan T-Shirt dan celana pendek. Ia berbagi cerita bagaimana kondisi jungkir balik saat Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara (Sulut) dilanda pandemi selama lebih setahun.

“Pendapatannya turun sampai 75 persen” katanya. 

Penurunan omset dan pendapatan ini membuat banyak karyawannya harus mengundurkan diri. Jika sebelum pandemi total karyawan ada 6 orang, saat pandemi sempat tersisa 1 orang saja. Pegawai baru diberikan bayaran Rp 50 ribu per hari, sementara yang lebih lama Rp 100 ribu. 

Rumah makan milik Ahmad Pontoh. (Foto Fandri Mamonto)

Saat kondisi normal, bisa terjual hingga 15 tandang  Pisang Goroho. Sekarang paling hanya 1 tandang saja. Pisang Sepatu, ya senasib juga. Biasanya laris manis hingga 10 tandang kini hanya 1 tandang. 

Hal yang sama berlaku pada pemesanan air galon yang biasanya sehari bisa memesan tujuh galon tapi sejak Covid-19 hanya satu galon.

Akibat kondisi ini, buntutnya para petani Pisang Garoho ikut menanggung derita. Ahmad sudah punya langganan pemasok. Dahulu sekarung Goroho berani ia bayar hingga Rp 130 ribu. Sekarang memesan hingga sekarung pun dia tidak berani karena takut tidak laku laku akhirnya keburu rusak. 

“Dampak lainnya saat pandemi saya tidak lagi memesan pisang goroho lebih banyak karena takut pisang tersebut rusak. Biasanya sebelum pandemic satu tandang pisang goroho dijual sampai Rp20-30 ribu tapi sejak pandemic tahun lalu bahkan harganya hanya mencapai Rp7 ribu. Tapi walaupun harganya turun saya tidak berani membelinya,” ucap Ahmad.

Dengan kondisi keuangan terus merosot, sebenarnya solusi terampuh adalah meminjam uang dari bank.  Tapi pria ini mengaku takut, walau tawaran dari Lembaga kreditur sudah banyak berdatangan. Alasannya dengan kondisi ekonomi serba tak menentu akibat pandemi, Ahmad dan istri khawatir malah tidak bisa membayar cicilan hutang berikut bunga bunganya.  Bisa makin runyam masalah. Akhirnya mereka pasrah. 

Senasib dengan Ahmad Pontoh, pemilik kafe Legend di pantai Batu Pinagut Aryo Santoso menuturkan bisnisnya pun terpukul selama pandemi. Dengan menurunnya kunjungan ia harus berhenti berjualan hampir tiga bulan pada tahun lalu. Setelah Hari Raya Idul Fitri, baru ia berani membuka kembali kafenya. 

Ke depan, Aryo mengaku harus memutar otak bagaimana mencipatakan inovasi inovasi untuk tetap bertahan di tengah pandemi yang entah sampai kapan akan berlangsung. “Saya berpikir dengan inovasi ini diharapkan pengunjung akan datang apalagi dengan kebijakan new normal. Sehingga konsep yang saya tawarkan mengusung kawula muda.”.

Salah satu strategi yang dijalankannya adalah menyediakan hiburan musik akustik supaya suasana makin asik. Menu makanan pun diragamkan termasuk dengan menambah masakan rahan dan dada ikan tuna, juga lobster.

Beragam inovasi dalam menarik kunjungan wisatawan. (Foto Fandri Mamonto)

“Segi pelayanan juga kami tingkatkan, sekaligus melayani pesan online. Jadi pelanggan juga bisa memesan online,” ujarnya.

Sekertaris Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Bolmut Sam Tampusu mengatakan sejak pandemi, muncul usaha kuliner di kawasan pantai Batu Pinagut menurun drastis

“Pendapatan mereka harus kita pertahankan, akan tetapi  harus tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah dengan menerapkan kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Kiranya empat hal diatas tadi dapat diterapkan oleh pelaku usaha agar pengunjung tidak khawatir dan takut lagi untu datang berkunjung.

Selain menerapkan Protokol Kesehatan, para pengusaha harus giat menemukan inovasi baru. Misalnya inovasi dengan melakukan Pesan Antar agar usaha bisa jalan terus dan tidak gulung tikar.

Kepala dinas pariwisata Bolmut Noval Djarumia mengakui jika memang pandemi ini berdampak di sektor pariwisata Bolmut. Termasuk pelaku usaha kuliner. Akan tetapi awal tahun 2021 kembali relatif stabil.

Pihaknya saat ini mulai menyiapkan terobosan dalam memulihkan sektor ekonomi di tengah pandemi. Salah satunya dengan menggelar Festival Budaya dan Minum Kopi di Pantai Batu Pinagut yang akan bekerjasama dengan berbagai pihak.

Selain itu pihaknya juga telah menggelar beberapa kegiatan misalnya zumba dan pameran ekonomi kreatif. Ia berharap gagasan baru akan terus bermunculan dari para pedagang, termasuk melebarkan jejaring usaha. 

“Jejaring ini tentunya termasuk perbankan yang ada di Bolmut, keterlibatan perbankan sangat dibutuhkan dalam mendukung pemulihan ekonomi di pantai Batu Pinagut,” jelasnya.

Sementara itu Deputi Branch Manager Bank Sulutgo cabang Boroko, Hesky Tuwo mengatakan memang saat ini ada penurunan suku buku pinjaman yang merupakan kebijakan dari pemerintah pusat. Program ini untuk menggerakan  atau merangsang perekonomian usaha masyarakat.

Ia menambahkan walaupun demikian dirinya melihat pelaku usaha masih melihat-lihat peluang bisnis. 

“Yang dimaksud adalah bagaimana daya beli masyarakat apakah sudah baik atau belum. Jika daya beli masyarakat baik tentu meningkatnya pelaku usaha melakukan peminjaman tapi jika belum tentu belum akan melakukan peminjaman,” jelasnya.

Walaupun suku bunga pinjaman rendah tetapi daya beli masyarakat kurang hal itu juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, keterlibatan dari semua pihak juga sangat dibutuhkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu ditanya bagaimana dengan peran Bank Sulutgo dalam mendukung pemulihan ekonomi bagi pelaku usaha di pantai Batu Pinagut, dirinya menyampaikan pihak perbankan tentu selalu berkerjasama dengan pemerintah, terlebih sebagai bank daerah.

Terkait KUR bagi pelaku UMKM  Bank Sulutgo kata dia tetap menyediakan kebutuhan kredit. Akan tetapi walaupun di tengah pandemi seperti ini tetap ketat dalam penyalurannya.

Berdasarakan kebijakan pemerintah pusat dalam penyaluran KUR tentu pihaknya masih melihat pada Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) bagi warga yang ingin mendapat KUR. Selanjutnya setelah melewati SIKP diperiksa lagi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Peran perbankan terutama Bank Sulutgo sangat diperlukan di tengah pandemi Covid-19. (Foto Fandri Mamonto)
Fakta menarik dan bermanfaat