Permesta di Bolangitang

Penulis di depan Tugu Permesta

TORANGPEBERITA.COM-Seyogyanya tulisan ini saya publis pada Tanggal 19 April kemarin (seperti beberapa tahun lalu), karena ada momentum sejarah disitu yang menjadi obyek dari tulisan ini.

Tapi biarlah, lagipula tadi baru Tanggal 2 Mei, belum terlampau jauh beranjak dari April, dalam momentum yang saya maksud.

Begini.

Jika kita melewati Desa Bolangitang tepatnya di Pertigaan ke arah Padang, di pertigaan itu ada sebuah Tugu yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Penasaran dengan keberadaan tugu tersebut, memancing rasa ingin tahu, sehingga mendekat dan membaca, ternyata tertulis angka 19-4-1959.

Pertigaan jalan padang (padongo) desa Bolangitang, Kecamatan Bolangitang Barat. (Foto Fandri Mamonto)

Ada peristiwa apa yang sebenarnya terjadi di tahun itu di Bolangitang, sepertinya, kita generasi muda, banyak yang tak tahu tentang hal ini, atau memang tidak mau tahu.

Beberapa tahun silam, saya menelusuri hal ini, mencari-cari literatur tentang ini, satu-satunya saya temukan pada buku Sejarah Kaidipang dan Bolangitang, catatan Prof. Dr. Hi. H.T. Usup (Almarhum) bahwa ternyata ini adalah Tugu Peringatan Aman Permesta dari pergolakan Permesta di Bolangitang, dan angka yang tertulis 19-4-1959 adalah tanggal pembebasan wilayah Bolangitang oleh Tentara Pusat dari Tentara Permesta.

Dalam Sejarah Nasional Indonesia, maka akan kita dapati fakta sejarah tentang munculnya gerakan-gerakan separatis pasca Proklamasi Kemerdekaan.

Gerakan-gerakan separatis yang membuat gerah pemerintah Pusat dikala itu karena harus menguras energi Militer untuk menumpas pemborontakan yang merongrong keutuhan NKRI.

Salah satu gerakan Separatis yang muncul adalah Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA) yang dideklarasikan di Makassar sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi dikala itu. Gerakan Permesta dideklarasikan oleh Letkol Ventje Sumual pada tanggal 2 Maret 1957.

Pada saat dideklarasikan, gerakan ini didukung oleh Masyarakat Makassar namun lambat laun masyarakat mulai memusuhi permesta.

Mencermati kondisi masyarakat yang mulai tidak suka dengan Permesta, maka setahun kemudian yaitu pada Tahun 1958 Markas Besar Permesta dipindahkan ke Manado.

Pada saat itu Pemerintah Pusat mengambil tindakan tegas dengan operasi Militer menumpas gerakan Permesta.

Tulisan ini bukanlah bermaksud membedah tentang sejarah permesta secara paripurna, karena persoalan tentang Permesta sampai hari ini masih terdapat perbedaan persepsi tentang konsep kejuangan mereka memisahkan diri dari Pemerintah Pusat.

Tulisan ini hanyalah mengambil sedikit torehan sejarah di wilayah Bolangitang. Dimana ketika itu Bolangitang yang merupakan wilayah Bolaang Mongondow dan ada di Pulau Sulawesi sebagai basis Permesta maka suka atau tidak suka, Bolangitang harus ikut dalam pusaran Sejarah ini.

Tidak hanya sekedar ikut dalam riak kecil dari gelombang besar, namun berdasarkan beberapa literatur tertulis dan penuturan lisan bahwa wilayah Bolangitang ikut bergolak ketika itu. Tugu yang ada di Desa Bolangitang yang sampai saat ini berdiri kokoh, menjadi penanda peristiwa masa itu.

Tugu yang berada di Jalan Trans Sulawesi desa Bolangitang. (Foto Fandri Mamonto)

Tentunya bukan tanpa sebab khusus jika ditempat ini harus dibuatkan Tugu peringatan seperti ini, tentunya ada momentum sejarah yang harus dikenang oleh generasi kemudian. Ada banyak hal yang terjadi di Bolangitang dikala Permesta.

Banyak harta benda milik rakyat bahkan nyawa yang melayang dalam peristiwa ini. Dimana Permesta yang menggunakan taktik bumi hangus menjelang kekalahan mereka atas pemerintah Pusat.

Banyak rumah-rumah penduduk yang dibakar. Bahkan dalam sejarah Bolaang Mongondow, Taktik Bumihangus oleh Permesta banyak menimbulkan korban Materiil dan korban jiwa bagi rakyat Boloaang Mongondow, bahkan banyak situs-situs sejarah dan budaya yang dibumihanguskan di Bolang Mongondow.

Salah satu peristiwa yang terjadi di Bolangitang pada saat Permesta adalah saat menjelang kekalahan mereka, Permesta sempat melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar Jembatan Pontoh yang ada di perbatasan antara Desa Langi dan Sonuo.

Pembakaran Jembatan ini terjadi pada tanggal 16 April 1959, informasi ini saya dapatkan dari hasil wawancara saya dengan mendiang H.D.H. Pontoh (Abo Doti) pada Bulan April Tahun 2018.

Menurut penuturan Abo Doti, atas perintah Tentara Permesta, Kopra diangkut dengan pedati dan dikumpulkan di atas jembatan dan dibakar bersama dengan jembatan tersebut.

Jembatan yang pernah menjadi kebanggan Masyarakat Bolangitang ketika itu, dibangun pada tahun 1930 atas prakarsa dari dari paduka Ram Suit Pontoh (raja Kaidipang Besar) dimana beliau yang memimpin langsung pekerjaan ini.

Menurut beliau, bahwa perkakas jembatan ini dibuat dari Kayu Besi (bahasa lokal : Yipilo) dan Kayu Hitam (bahasa lokal : Manuayomo), sehingga daya tahannya diperkiraan sampai ratusan Tahun. Tapi sayang, Jembatan ini tak lagi berbekas kini, sebagai ulah dari Permesta.

Dan dalam catatan Prof. H. T. Usup, bahwa jembatan sepanjang 52 Meter ini arsiteknya adalah seorang yang berkebangsaan Belanda bernama Ir. Tergaast.

Masih menurut mendiang H.D.H. Pontoh, bahwa sebelum membakar jembatan ini, Permesta sempat mengancam akan membakar Komalig (Istana) Raja di Boroko, namun atas upaya dari Raja R.S. Pontoh, Komalig selamat dari bumihangus dan bangunan bersejarah ini dapat kita saksikan sampai hari ini.

Kegagalan Permesta membakar Komalig, mereka lampiaskan di Jembatan di Langi. Kalau kita baca Sejarah Bolaang Mongondow, Komalig juga dibakar oleh tentara Permesta.

Masih dalam catatan Prof. H.T. Usup, Tanggal 19 April 1959 Tiga hari sesudah peristiwa pembakaran jembatan, terjadi pertempuran hebat di Bolangitang.

Pasukan Permesta dibawah komando Kapten D. J. Somba harus bertekuk lutut kalah ketika diserbu oleh Tentara Pusat dibawah Komando Sersan Mayor Mulyadi dari Bataliyon C Remaja Brawijaya. Mengakhiri petualangan Permesta di wilayah ini.

Tidak hanya itu, menurut cerita orang-orang yang hidup di kala itu, banyak kisah-kisah tentang Permesta yang menebar teror dan ketakutan terhadap penduduk.

 

(*Penulis adalah Wartawan Jenjang Muda, Persatuan Wartawan Indonesia)

Fakta menarik dan bermanfaat