Lipstik sebagai penentu kelas sosial dan simbol perlawanan perempuan

Ilustrasi lipstik/Pexels

TORANGPEBERITA.COM- Keberadaan lipstik sudah ada sejak tahun 3500 SM. Dimana Ratu Schub-Ad dari Ur, Sumeria Kuno, yang pertama kali menggunakan lipstik sebagai pewarna bibir. Ratu Schub-Ad membuat lipstiknya dari campuran timah putih dan tumbukan batu permata yang dioleskan ke bibir. Bangsa Mesopotamia pun mulai menciptakan lipstik pada tahun 3000 SM, lima abad setelah bangsa Sumeria.

Lipstik di Mesopotamia dibuat dari campuran lemak, lilin, tumbukan batu permata dan perhiasan. Setelah Mesopotamia, Mesir Kuno mengikuti jejak dengan menciptakan dan memakai lipstik. Bangsa Mesir membuat lipstik dari oker merah yang dicampur dengan getah. Bedanya lagi, bangsa Mesir Kuno gak hanya memakai lipstik warna merah, tetapi juga lipstik berwarna orange, hitam-biru, dan magenta. Oh iya, lipstik pada masa itu tidak hanya dipakai oleh perempuan, tetapi juga oleh laki-laki, terutama golongan bangsawan.

Masyarakat Yunani memberikan label buruk untuk lipstik. Lipstik di masyarakat Yunani hanya dipakai oleh perempuan pekerja seks. Pekerja seks yang tidak memakai lipstik akan dihukum karena dituduh berpura-pura menjadi perempuan baik. Berbeda dengan Yunani Kuno, lipstik di Eropa dipakai oleh perempuan-perempuan miskin.

Hal ini terjadi di Spanyol pada abad ke-6. Baru pada abad ke-9, perempuan bangsawan Eropa mulai tertarik memakai lipstik. Lipstik sebagai penentu kelas sosial juga terjadi di Italia. Lipstik yang berwarna pink cerah adalah lipstik perempuan kelas atas dan lipstik yang berwarna merah adalah lipstik perempuan kelas bawah.

Pemakaian lipstik ternyata sempat dilarang, oleh Gereja. Terutama Gereja Inggris pada abad pertengahan yang sangat melarang perempuan mengunakan lipstik sebagai riasan. Gereja menganggap perempuan yang memakai lipstik adalah “inkarnasi dari setan” karena mengubah ciptaan Tuhan. Walaupun gereja melarang keras pemakaian lipstik, masih banyak para perempuan yang tidak menganggap hal tersebut sebagai dosa. Bahkan, popularitas dan tingkat pemakaian lipstik pada saat itu semakin meningkat.

Setelah Gereja, Parlemen Inggris juga melarang pemakaian lipstik. Parlemen Inggris mengeluarkan perintah kepada para laki-laki untuk menceraikan istrinya jika ketahuan sang istri memakai lipstik ketika prosesi pernikahan berlangsung.

Bahkan, para perempuan yang memakai lipstik juga akan dituduh sebagai penyihir. Pelarangan ini tetap berlangsung sampai masa pemerintahan Ratu Victoria I. Lipstik tetap mendapatkan citra yang buruk dan hanya boleh digunakan oleh pekerja seks dan aktris. Walaupun demikian, para perempuan tetap mencari-cari cara untuk memakai pewarna bibir dan penjual lipstik pun tetap menjual lipstiknya secara diam-diam.

Pada abad ke-20, lipstik mulai mendapat status yang tinggi dan tidak lagi dipandang buruk. Para aktris teater yang setiap hari memakai lipstik dan menghibur masyarakat berperan besar untuk kepopuleran lipstik.

Bahkan, pada masa itu lipstik dijadikan sebagai simbol perlawanan perempuan! Hal ini berawal ketika Elizabeth Cady Stanton dan Charlotte Perkins Gilman, yakni ketua gerakan suffergate New York, membagikan kertas berisi pewarna bibir untuk para perempuan yang mengikuti demonstrasi menuntut hak pilih pada tahun 1912.

Selain itu, pemerintah Amerika juga mengeluarkan poster-poster propaganda perang yang mengajak perempuan berkontribusi untuk negara yang selalu memuat gambar perempuan yang menggunakan lipstik merah. Tidak berhenti di situ, lipstik pun akhirnya menjadi simbol untuk lipstick feminism, yakni sekelompok perempuan yang memperjuangkan nilai-nilai perempuan tradisional sebagai bentuk pemberdayaan mereka. (Artikel ini juga telah tayang di tentangpuan.com)

Sumber: Yukepo.com

Fakta menarik dan bermanfaat