Polisi bongkar penjualan pupuk bersubsidi ilegal lebih mahal

Polisi menggerebek gudang tempat penyimpanan pupuk bersubsidi di Kecamatan Gondang, Sragen (Foto: dok Humas Polres Sragen)

TORANGPEBERITA.COM- Polres Sragen membongkar praktik penjualan pupuk bersubsidi tanpa izin yang dijual melebihi harga eceran tertinggi (HET) kepada petani di Sragen. Dari gudang milik pelaku, seratusan sak pupuk bersubsidi siap jual diamankan.

“Kami menindaklanjuti informasi dari masyarakat tentang adanya penjualan pupuk subsidi tanpa izin di wilayah Kecamatan Gondang. Usai mendapatkan informasi tersebut, petugas kemudian melakukan penyelidikan,” kata Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Guruh Bagus Eddy Suryana, Jumat 12 Maret 2021 dilansir dari Detik.com

Ia mengatakan, kasus itu terbongkar saat satu unit kios di Desa Kaliwedi, Kecamatan Gondang, Sragen, dlaporkan melakukan penjualan pupuk bersubsidi tanpa izin. Petugas lalu mendatangi kios tersebut untuk melakukan penyelidikan.

Petugas unit II Satreskrim Polres Sragen melakukan penyelidikan dan pengecekan, Rabu 10 Maret. Ternyata informasi tersebut benar,” ujarnya

Ia menambahkan saat memeriksa kios tersebut petugas menemukan tumpukan stok pupuk bersubsidi dengan jenis Urea dan Phonska. Kepada petugas, pemilik kios, Tri Widodo (47), mengakui dirinya menjual pupuk tersebut kepada masyarakat umum.

“Pelaku menjual pupuk bersubsidi tanpa izin. Selain itu, pupuk juga dijual melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan oleh pemerintah,” jelas Guruh.

Selain memeriksa pelaku, petugas juga mengamankan barang bukti berupa seratusan sak pupuk dari kios milik pelaku. Seratusan sak pupuk tersebut terdiri atas 70 sak pupuk Phonska dan 50 sak pupuk Urea.

Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 30 ayat (3) Permendag RI Nomor. 15/M.DAG/PER/4/2013 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian, juncto Pasal 6 Ayat (1) huruf b UU Nomor 7 Tahun 1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi.

“Ancaman hukuman maksimal dua tahun penjara dan denda Rp 100 juta,” ujarnya.

Fakta menarik dan bermanfaat