//

Ada wisata kolam pemandian di desa Nagara

Kolam pemandian desa Nagara Kecamatan Bolangitang Timur. (Foto Fandri Mamonto)

TORANGPEBERITA.COM- Tahun 2020, Desa Nagara, Kecamatan Bolangitang menjadi salah satu desa penyumbang kunjungan wisatawan tertingi ke tiga di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dengan jumlah kunjungan 4.236.

Kunjungan wisatawan tersebut hanya kalah dari tracking Mangrove desa Binuanga urutan pertama dengan jumlah kunjungan 19.332 dan pantai Batu Pinagut 17.440. Menariknya jumlah kunjungan kolam pemandian Nagara hanya dalam tiga bulan. Dengan karcis masuk Rp10.000

Kolam pemandian desa Nagara sendiri dibangun pada tahun 2020 dengan menggunakan dana desa anggaran mencapai Rp465.557.470 dengan memiliki dua kolam pemandian. Kolam dewasa panjang 19 meter, lebar 8 meter kedalaman 1,40-1,70 Cm. Kolam anak-anak panjang 15 meter, lebar 7 meter, kedalaman 40 CM.

Nagara salah satu desa menjalankan program Pamsimas di Bolmut

Desa Nagara salah satu desa di Bolmut sukses menjalankan program Pamsimas Desa ini dimekarkan dari Desa Mokoditek.

Data yang ada desa Nagara berhasil meningkatkan akses air minum terhadap masyarakat, tahun 2018 akses air minum di Desa Nagara baru 5 persen (Jalur Perpipaan) namun tahun 2020 meningkat drastis menjadi 100 persen yang terlayani.

“Di tahun 2020 sudah 100 persen masyarakat yang terlayani jalur perpipaan yang dikelola oleh KP-SPAM,” kata kepala desa Nagara Abdul Ngadi.

Karena air menjadi kebutuhan masyarakat
dana sharing program Pamsimas yang bernilai 10 persen dari APBD Desa naikkan menjadi 35 persen.


Bagaimana awal pembuatan kolam pemandian desa Nagara ?

Abdul Ngadi sebagai kepala desa berbagi cerita. Ia mengatakan salah satu munculnya ide adalah waktu studi tiru di Ponggok, Jawa Tengah yang pariwisatanya memanfaatkan potensi air.

Selain itu setiap melihat bak penampungan air meluap dan terbuang percuma hingga ke halaman warga dirinya terpikir mengapa air itu tidak dimanfaatkan untuk dikelola.

“Ide pembuatan kolam pemandian muncul lagi saat melihat air bak penampungan terbuang, bahkan sampai ke halaman warga,” ujarnya.

Selanjutnya dirinya menyampaikan ke masyarakat terkait pembuatan kolam pemandian tersebut yang letaknya di wilayah bukit. “Sambungan air dari bak ke kolam renang mencapai 300 meter,” kata dia.

Dalam pembuatan kolam renang tentu sempat pesimis karena apalagi kolam pemandian ini dibuat diwilayah bukit. Selain itu orang-orang yang membuat kolam pemandian tidak mengambil ahlinya dibidang kolam. Pekerjaan ini melibatkan masyarakat.

Setelah jadi air kolam pemandian berwarna hijau. Hal ini juga sempat membuat pesimis. “Setelah itu saya berpikir dan belajar secara daring bersama ahlinya, dari sini mulai mendapatkan pengetahuan tentang kolam pemandian,” kata sangadi.

Dari belajar tersebut dirinya mengetahui bagaimana sirkulasi air dan menggunakan tiga jenis obat yang disarankan untuk kolam pemandian. Bahkan air harus dites kit sebelum digunakan.

Seiring berjalannya waktu wisatawan yang mengunjungi lokasi ini sampai ratusan orang. Pernah di hari Minggu mendapatkan Rp6-7 juta.

“Dan kami mendapatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) mencapai Rp10.800.000 dari tiga bulan,” ujarnya.

Saat ini wisata pemandian kolam renang dikelola oleh Bumdes. Dan tahun ini juga ada pembangunan lanjutan di lokasi tersebut dengan PAdes tadi. Kamis dan Minggu dibuka. Nikmati air pegunungannya.

Fakta menarik dan bermanfaat