Cerita pembawa rakit dari Gorontalo ke Sulawesi Utara di sungai Andagile

Harun Abunye (60) pengayuh rakit lintas Provinsi antara Sulawesi Utara dan Gorontalo. (Foto Fandri Mamonto)

TORANGPEBERITA.COM- Di bawah terik matahari sekitar pukul 12.00 Wita, Kamis 25 Februari 2021 Harun Abunye (60) duduk disebuah gubuk kecil sebrang sungai Andagile di desa Buata, Gorontalo Utara.

Ia menunggu penumpang menggunakan rakit terbuat dari bambu dan papan untuk menyebrang ke desa Busato, Kecamatan Pinogaluman, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dari desa Buata, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) provinsi Gorontalo. Begitupun sebaliknya dari Busato ke Buata.

Saat itu Torangpeberita.com mencoba menggunakan jasa ojek rakit dari Harun untuk menyebrang ke desa Buata, Gorontalo Utara dari desa Busato, Bolmut. Bersama dengan tiga orang pendamping PKH di Bolmut dan satu orang guru yang mengajar di desa Busato dari Tombilato, Gorontalo Utara.

Dalam perjalanan menyebrangi sungai Andagile, Torangpeberita.com mewawancarai guru yang sama-sama penumpang ojek rakit. Menurutnya setiap hari kerja sekolah ia menggunakan jasa rakit ini. Hal ini efektif karena jika memutar ikut jalan trans Sulawesi cukup jauh perjalanan.

“Saat ini saja agak jauh untuk pulang ke desa Tombilato (Gorontalo Utara),” ujarnya Kamis 25 Februari 2021.

Baca Pula:  Berikut nama-nama kepala puskesmas di Bolmut yang baru dilantik
Harun Abunye (60) pengayuh rakit lintas Provinsi antara Sulawesi Utara dan Gorontalo. (Foto Fandri Mamonto)

Tak berselang lama kami tiba di darat desa Buata. Sambil menunggu penumpang Torangpeberita.com berkesempatan mewawancarai Harun disebuah gubuk kecil.

Dengan memakai topi dan menggunakan pakaian pasangan calon kepala daerah di Gorontalo, Harun mengatakan aktivitas ini dilakukan saban hari. Kecuali saat air sungai meluap.

“Kalau banjir pasti berhenti rakit di parkir, karena air sampai ke gubuk sini kadang juga sampai di rumah saya hingga ketinggian jendela,” katanya.

Ia mengatakan membawa rakit dilakukan dari pukul enam pagi sampai enam malam. Pendapatannya tidak menentu. Tergantung penumpang.

“Setiap penumpang Rp5.000, jadi dalam sehari bisa sampai Rp100.000, ada juga yang hanya Rp80.000 kalau banyak penumpang bisa sampai Rp120.000,” ujar Harun.

Ditanya sudah berapa tahun ia melakukan aktifitas pembawa rakit, ia mengatakan kira-kira hampir 10 tahun ini. Idenya muncul ketika guru-guru menyampaikan usulan untuk membuat rakit.

“Sehingga saya coba membuat rakit. Lokasi sebelumnya sebenarnya bukan disini. Tapi karena lokasi lama sudah dibuat broncong jadi saya pindah,” tuturnya.

Baginya untuk tidur siang agak susah. Karena jangan sampai tiba-tiba ada penumpang. Ia mengungkapkan jika makan tinggal pergi ke rumah yang hanya dekat.

Baca Pula:  Unik calon kepala desa Buko diarak keliling kampung menggunakan kendaraan viar
Harun Abunye (60) pengayuh rakit lintas Provinsi antara Sulawesi Utara dan Gorontalo. (Foto Fandri Mamonto)

Harun berbagi cerita kembali, dimana warga Buata, Gorontalo Utara memiliki kebun di wilayah Bolmut. Begitupun sebaliknya warga Bolmut memilki kebun di Gorontalo Utara.

Selanjutnya, ketika ditanya jika nantinya ada jembatan penghubung antara desa Busato dan Buata. Harun menuturkan sebenarnya tidak masalah.

Saat ditanya apakah tidak bertani atau berkebun, ia mengatakan membawa rakit adalah kebun saya. Apalagi diusia sudah tua seperti ini.

Selang hampir sejam tibalah satu penumpang dari Busato ke wilayah Gorontalo Utara. Kami-pun mengakhiri wawancara dan balik ke desa Busato Bolmut.

Setelah balik tiba-tiba sebelum sampai di pertengahan sungai, Harun melihat penumpang langganannya, kami pun balik lagi ke Buata. Kata Harun penumpang ini merupakan guru dari desa Kayougu/Padango ia mengajar di desa Busato.





Fakta menarik dan bermanfaat