/

Kaleidoskop 2020 : Cerita warga soal banjir bandang di Pangkusa sejak tinggal tahun 1981

Situasi banjir bandang di Pangkusa Maret 2020 lalu. (Foto Fandri Mamonto)

TORANGPEBERITA.COM- Desa Pangkusa, Kecamatan Sangkub salah satu desa  paling parah terkena dampak banjir bandang pada Rabu 4 Maret 2020.


Rumah tampak porak-poranda akibat dampak banjir bandang. Sabtu 7 Maret 2020 warga  masih membersihkan rumah mereka. Tampak ada yang kelelahan. Sejenak istirahat.

 
Ada juga yang sedang membakar milu pada saat itu. Bahkan sesekali mereka memanggil kami yang sedang meliput untuk makan bersama.


Arifin Panigoro (42) warga Pangkusa menceritakan kondisi saat itu, pada Selasa 3 Maret 2020 saat pukul jam 12 malam sudah ada banjir. “Tapi kemudian sekitar pukul 02.00 Wita datang kembali air susulan, jadi air dua kali naik,” jelasnya.

 

“Saya menyelamatkan rumah warga, yang memang pada saat itu rumah saya tidak terkena, tapi yang lain lari naik ke gunung,” ujarnya yang sejak 23 tahun mendiami wilayah Pangkusa.

Sementara itu Ngatemin (68) warga Pangkusa mengatakan dirinya sejak tahun 1981 tinggal di Pangkusa.  “Ini banjir terparah selama ini,” jelasnya.

 
Ia mengatakan, pada tahun 1984, 1991, 2010 banjir melanda daerah ini. “Saya ingat itu, tapi  paling parah pada tahun ini,” ungkapnya sambil menceritakan kehilangan gabahnya.

Ditempat yang sama Sariman (55) tahun mengungkapkan saat itu air mencapai 75 CM. “Banjir disini seperti 10 tahun sekali. Dimana tahun 2010 pernah terjadi tapi tidak separah ini,” tuturnya.

Pembukaan Lahan Baru

 Bagi Sariman banjir disebabkan akibat meluapnya mata air di  kaki gunung. “Dimana banyak memiliki mata air, terus banyak yang longsor, selanjutnya panas yang berkepanjangan, gunung yang gundul,” jelas bersama warga lainnya.

 
Ia menuturkan, pihaknya juga membuka lahan baru. “Sebelumnya saya hanya memiliki lahan 2 Ha, tapi dalam kurun 2-3 tahun ini lahan bertambah menjadi 2 Ha lebih.  Hal ini dilakukan untuk menambah pendapatan keluarga,” ujarnya.

 

Ngatemin juga mengaku, jika awal kedatangan mereka ke Sangkub hanya mendapat jatah tak lebih dari 1 hektar lahan pertanian, kini mereka sudah punya lahan di atas 2 hektar.

 

“Ya buka di atas gunung itu. Diperluas karena kebutuhan keluarga juga meningkat. Rata-rata kami membuka lahan baru di sana,” aku Ngatemin, pun warga lainnya mengatakan hal yang sama.

 

Mereka bersama  warga lainnya bercerita  jika pembukaan lahan baru sudah berdasarkan keputusan bersama.

Fakta menarik dan bermanfaat