/

Hari ibu, istri nelayan Bolmut perlu diberdayakan di tengah pandemi

Istri nelayan saat membantu mendorong perahu. (Foto Fandri Mamonto)

TORANGPEBERITA.COM- Dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Dr Alfi S Baruadi S.Pi, M.Si mengatakan yang harus dilakukan oleh nelayan dalam situasi pandemic ovid 19. Pertahankan profesi nelayan untuk tetap menjalankan roda ekonomi rumah tangga nelayan.

“Sebagai penghasil pangan khususnya protein hewani bagi masyarakat, maupun sebagai penyumbang dana dari retribusi hasil perikanan,” ungkapnya.



Lanjutnya, memang pukulan berat bagi nelayan saat pandemi Covid 19 adalah pintu ekspor tidak seperti dulu bahkan ditutup dibeberapa Negara. “Pukulan berat lain ada akibat pertumbuhan ekonomi saat ini semakin terpuruk akan mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat akan produk perikanan,” tuturnya.


“Akan tetapi dibandingkan dengan profesi lain, maka perikanan khususnya perikanan tangkap masih kuat untuk bertahan dalam situasi pandemi Covid 19. Karena alasan ketersediaan sumber daya ikan kita masih banyak dan sumberdaya manusia yaitu nelayan berpengelaman,” ucap dosen jurusan manajemen sumberdaya perikanan UNG ini.



Soal bantuan, Baruadi menuturkan, jika mengutip beberapa pendapat nelayan. “Torang jangan kase bantuan makanan pak, karena abis makan torang somo tidor (Kami jangan diberikan bantuan makanan, karena abis makan kami tidur). Sehingga saya menyarankan bantuan biaya operasional yang bisa dibarter dengan ikan hasil tangkap,” katanya.



“Mengapa? Karena ini yang menjadi masalah saat ini karena biasa operasional yang tidak cukup bahkan sudah tidak ada  biaya pengeluaran sama harga jual tidak berimbang. Bantuan biaya operasional dibarter dengan ikan dan sisanya atau keuntungan dari jual ikan diberikan tunai. Bisa bekerja sama dengan koperasi atau lembaga yang bisa berperan baik dan pengalaman,” harapnya


Untuk bentukan jangka panjang menurut Baruadi lebih disarankan kepada bantuan armada penangkapan dan alat penangkapan. “Perlu juga lembaga perikanan yang merupakan wadah mereka. Hati-hati kalau wadah tersebut dimanfaatkan oleh oknum yang membawa atas nama nelayan,” jelasnya.

Sementara itu pelopor sekaligus pembina organisasi  Deheto Hulonthalo (laut Gorontalo) Sandry Djunaidi M.Si  mengatakan dalam situasi pandemi seperti ini istri nelayan bisa diberdayakan. “Agar bisa dilihat bagaimana kedepannya kontribusi dari istri nelayan saat pandemi seperti ini,” ujarnya.


Ia menuturkan hal ini mencegah jika hasil ikan melimpah, dan dalam situasi pandemic ikan tidak habis terjual. “Sehingga dengan diberdayakan istri nelayan bisa menjadi nilai tambah bagi kehidupan nelayan, karena lebih bervariasi dan menarik minat,” tambah tenaga pendidik di laborotarium hidrobioekologi dan Biometrik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Negeri Gorontalo ini.


Baginya, pemerintah daerah bisa membantu para nelayan dan pedagang melalui bantuan ke UMKM. “Sehingga melalui UMKM yang ada para nelayan bisa terbantukan soal penjualan ikan mereka,” tutur pria asal Bolmut ini.

“Untuk pedagang ikan, mungkin bisa dibantu dengan cara penjualan online dengan ada yang mendampingi mereka,” harapnya.

Sementara itu sambutan menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak Republik indonesia yang di bacakan oleh Ketua TP PKK Kabupaten Bolmut Ainun Pontoh Talibo mengatakan peringatan hari ibu dirayakan setiap tahunnya sebagai bentuk penghargaan kepada perjuangan perempuan indonesia dari masa ke masa.

“Kongres perjuangan perempuan Indonesia dari tongak perjuangan perempuan Indonesia, dalam mengambil peran di setiap derap pembangunan di Indonesia,” ujarnya.

Perempuan mengisi ruang kontribusi dalam merebut kemerdekaan menyuarakan berbagai permasalahan, dan tutur serta mencari, serta menjadi solusi untuk mengantar Indonesia di titik sekarang.

Maka sangat disayangkan apabila perempuan masih harus menghadapi berbagai ketimpangan, melalui dari mengakses, berpartisipasi, ikut menetukan arah, serta menikmati manfaat pembangunan.

Terlebih pandemi Covid 19 menempatkan permpuan dalam situasi yang lebih rentan. Hal ini tergantung dalam hasil survei dari UN Women yang menujukkan bahwa pandemi Covid 19 telah memperparah kerentanan ekonomi perempuan dan ketidakseteraan gender.

“Serta dapat mengancam upaya pencapaian tujuaan pembangunan berkelanjuatan. Situasi yang serba sulit ini ternyata tidak menghentikan langkah perempuan perempuan indonesia untuk hadir di garda terdepan,” kata Talibo.

Melalui Peringatan Hari ibu (PHI) Ke-92 tahun 2020 ini diharapkan perempuan perempuan indonesia sadar betapa berharga dirinya. Utamanya karena tidak pernah berhenti merawat perjuangan para perempuan indonesia di masa yang lalu dalam gerak sekecil apapun, yang berarti melebig apapun. Untuk itu, mari warnai PHI dengan peran, kerja dan karya nyata dari anda semua untuk indonesia tercinta, perempuan berdaya indonesia maju.

Fakta menarik dan bermanfaat