Was-was Karena Demam Corona


Manado, Torangpeberita.com – Amrin Lataani tampak fokus. Ia mengamati jejeran kapal penyeberang turis di Dermaga Pariwisata Kalimas Manado, Minggu (26/01/2020) pagi.

Pagi itu, kata pengusaha kapal penyeberangan ke pulau-pulau di sekitar Teluk Manado itu telah memberangkatkan 20 turis asal Tiongkok ke Pulau Bunaken.

Ia bilang awal tahun ini kondisi bisnis sedang sepi. “Kalau dibilang ramai, tidak juga karena selain melalui pelabuhan ini, mereka kadang telah menggunakan jasa yang ada di Hotel Lion,” katanya.

Para turis yang menggunakan jasanya biasanya minta diantar ke Bunaken, Pulau Gangga dan Pulau Komang.

Menarik. Amrin dan beberapa rekan seprofesi sepertinya tengah cemas karena pemberitaan virus Corona asal Tiongkok. Wajar karena mereka kerap berinteraksi dengan para wisman Tiongkok.

“Tapi mau gimana lagi. Sudah menjadi resiko dalam pekerjaan, tantangan apapun akan diambil demi menghidupi keluarga,” ujar dia.

Dampak positif banjir wisatawan Tiongkok yang datang ke Manado ternyata belum dirasakan semua pihak di masyarakat.

Pedagang buah di Pasar Bersehati Manado,Mahmud Hubulo (54)mengatakan,jualannya tak pernah dibeli wisman Tiongkok yang biasa menyeberang ke Pulau Bunaken.

“Mereka lebih banyak ke tempat wisata. Ke Bunaken dan Lihagadan lewat di tempat jualan kami tapi hanya sekedar melihat-lihat,” kata warga Tuminting itu, Minggu (26/1/202)

Ia bilang, pendapatannya datang dari warga lokal saja. Jika hari lagi ramai, omsetnya bisa mencapai Rp 3 juta sebulan. Sebaliknya jika sepi berkisar antara Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta. “Bahkan pernah cuma Rp 200 ribu saja,” katanya.

Meski begitu ia tetap bersyukur dengan pekerjaannya. “Sudah menjadi resiko penjual, mau sedikt ataupun banyak penghasilan yang kami dapat, harus disyukuri” tukas Pria yang sudah 25 tahun berdagang di Pasar Bersehati itu

Sementara Santi Utina (35) Warga Manado, mengatakan,dampak dari kunjungan wisman Tiongkok bisa dirasakannya. “Turis Cina sering membeli nanas, dan advokad,” katanya. Ia bilang pendapatannya berkisar Rp 5 sampai Rp 6 juta per bulan.

Pedagang di pasar buah-buahan di Kawasan Boulevard Manado turut mendapat imbas meningkatnya sektor pariwisata Sulawesi Utara. Setiap hari turis Cina datang memberi jualan pada pedagang. Makin ramai dari sebelumnya, makin banyak pendapatan para pedagang.

Pedagang buah di Pasar Bersehati. (Foto: Vicky K)

Bahkan para pedagang sudah tahu sedikit Bahasa Mandarin, untuk berkomunikasi dengan turis Cina yang membeli dagangan mereka. Paling tidak menurut John, salah seorang pedagang, mereka tahu dasar-dasar dalam transaksi. Seperti jumlah satuan dan harga dalam Bahasa Mandarin

“Bahasa kami sudah mulai terbiasa,” katanya yang sehari-harinya berdagang durian.
John bersyukur, jumlah wisatawan yang membludak di Sulawesi Utara bisa ia dan pedagang lainnya rasakan. Kawasan pasar buah ini tak pernah sepi.

“Kalau perbandingan dengan sebelumnya memang signifikan ya. Kami merasa sangat terbantu,” katanya.

Pesatnya perkembangan pariwisata di Sulawesi Utara berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari kelompok paling kecil seperti pemandu wisata, pedagang buah, sopir, perhotelan, rumah makan, transportasi, hingga untuk pemerintah daerah Sulawesi Utara sendiri.

Penulis: Vicky / Fine / Ian
Editor: Fernando Lumowa

Fakta menarik dan bermanfaat